Sabtu, 07 November 2009

Bersyukurlah Anita

Itu judul cerpen di bobo yang pernah gw baca dulu...
Soal ingtan gw mah boleh diadu :p tapi gak pernah sukses kalo ujian hapalan, sungguh sebuah anomali, yasudahlah bukan itu yang pengen gw bahas
Ini masalah anak tukang bubur ayam yang ngambek gara-gara setelah biasanya peringkat satu, sekarang direbut oleh anak orang kaya yang punya pengetahuan luas, sekarang malah rangking tiga, ketika pulang ke rumah dia ngambek mau belajar aja, gak mau ngupas bawang seperti kerjaan dia sehari-hari...
Sekalinya tengah malam dia bangun ngeliat ibunya dengan muka cape masih menggoreng bawang goreng, akhirnya dia sadar juga untuk bersyukur walau "cuma" rangking tiga.

Entah kenapa tiba-tiba gw teringat cerpen ini, tapi yang pasti dalam banyak hal apa yang terjadi sama Anita itu juga terjadi sama gw. Dia marah sama keadaan, marah lahir di keluarga miskin, marah waktunya terbuang untuk kerja gak kayak anak lain yang bisa fokus belajar (gw gak harus kerja sih), pada akhirnya dia sadar untuk tidak menjadikan kesulitan dalam hidup ini sebagai hambatan, seenggaknya jadikanlah tantangan. Gw baru agak ngerti maksud kalimat ini akhir-akhir ini, tapi tetap hidup gw rasanya gonjang-ganjing, gara-gara leptop rusak.

Makin sering gw berandai-andai, seandainya begini maka begini, seandai begini gw gak akan kayak gini. Gw masih belum bisa jadi Anita, gw masih belum bisa bersyukur, gw belum jadi manusia yang ikhlas, rasanya tembok di depan gw terlalu tebal, gw gak tau harus gimana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar